Makan bersama bagi saya adalah ritual yang menyenangkan. Saya selalu berargumen semua panca indera akan aktif dalam sebuah jamuan, terlebih kalau dibarengi obrolan yang menarik dengan orang-orang yang seru. Banyak kenangan terbaik saat terjadi makan bersama dalam berbagai kesempatan.
Tidak sekadar bicara soal pemenuhan kebutuhan nutrisi, cita rasa, tekstur, harum, bahkan suara yang muncul saat proses pemasakan juga asyik untuk dicermati. Walaupun masih jauh dalam kaliber para idola saya @PakBondan dan @GatotPurwoko, saya berani berkata bahwa kuliner adalah salah satu passion saya.
Tidak sekadar bicara soal pemenuhan kebutuhan nutrisi, cita rasa, tekstur, harum, bahkan suara yang muncul saat proses pemasakan juga asyik untuk dicermati. Walaupun masih jauh dalam kaliber para idola saya @PakBondan dan @GatotPurwoko, saya berani berkata bahwa kuliner adalah salah satu passion saya.
Sebagai wujud manifestasi passion atas makanan, saya pernah buka usaha restoran. Saat menerjuni bidang tersebut, saya menyadari bahwa sekadar bermodalkan passion saja tidak cukup. Usaha yang pernah saya rintis bersama beberapa teman harus terseok-seok karena berbagai macam alasan. Faktor eksternal memang punya andil, tetapi faktor justru ada pada diri saya sendiri. Belakangan saya menyadari passion atas kulineri tertutupi oleh pertimbangan bisnis, dinamika organisasi, kebutuhan mendapat pengakuan dan segala bentuk komplikasi lain. Pada akhir keterlibatan dalam usaha restoran, saya mendapati diri sekadar bekerja tanpa hati, berkegiatan tanpa keriaan, dan berusaha tanpa kepedulian.
Are we just living a life or are we masters of the art of living? Sebutan kalimat judul diatas saya petik dari filsuf Cina, Lao Tse yang berbunyi, “orang-orang yang piawai dalam seni kehidupan TIDAK membedakan antara pekerjaan dengan permainan, antara kesibukan dengan keasyikan, antara pendidikan dengan rekreasi, antara pikiran dengan hati, dan antara kasih sayang dengan agama.” Petikan ini saya jadikan mantra hingga saat ini.
Passions are just a starting point- there are more to consider in career & life. Tanpa mengecilkan peran passion, terdapat hal- hal lain yang juga harus dipertimbangkan, yaitu purpose (what matters the most), talenta, dan pemahaman taktis bagaimana dunia bergerak. Apa jadinya kalau punya passion dalam hal musik, tetapi suara pas-pasan? punya passion pada dunia basket tetapi tinggi badan tidak menunjang?
Your passion already within you- always start with what you have and from where you are. Ibarat benih tanaman yang akan ditanam, passion juga butuh tanah subur dan ketekunan bercocok tanam. Tanah subur adalah perusahaan, industri, pasar yang mendukung aktualisasi passion. Selain itu, ketekunan bercocok tanam adalah konsisitensi dalam meningkatkan talenta atau skills selama minimal 10.000 jam.
The art of living is the art of combining your passion, purpose, skill & Market. Saya angkat topi pada sahabat saya @andiraa dan @ShaniBudi saat mendirikan Save/As. Kolaborasi mereka adalah wujud kesetiaan pada passion dan purpose sambil ditunjang upaya peningkatan skill dan pemahaman pasar yang berkesinambungan. Kerja dan karya mereka seolah effortless.
Pada tahap ini, saya masih terus belajar memahami esensi master of the art of living. Lao Tse juga menyebut, tujuan kehidupan adalah kesempurnaan perjalanan hidup itu sendiri. Bekerja atau bermain? Sibuk atau asyik? Pendidikan atau rekreasi? Orang lain boleh berpendapat apapun, tetapi kita paham keduanya sama. Nisi credideritis, non inteligetis.
Kompas Klasika,
Sabtu, 16 April 2011
Ultimate-U
with Rene Suhardono
No comments:
Post a Comment