Perjalanan hidup: lahir, mati, jodoh, rejeki hanya Tuhan yang tahu. suatu hari, karena sakit yang dideritanya, istri si pemilik toko meninggal dunia. Sepeninggal istrinya Pak Pemilik sama sekali tak menghiraukan keberadaan toko miliknya. Menghadapi situasi semacam ini Mbak Susi bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun dia tetap membuka dan mengelola toko sebagaimana biasanya. Setiap minggu dia lapor kepada Boss-nya yang cukup lama berduka atas kepergian istrinya, sementara mereka tak memiliki anak. Dua tahun lebih suasana seperti ini terus berlangsung. hingga suatu hari si pemilik toko datang mengunjungi Aldiron, dan memberikan separo saham toko itu kepada Mbak Susi. Tak menyangka akan diberi hak kepemilikan atas bisnis tersebut, Mbak Susi hanya mengangguk patuh saja.
Sejak itu si pemilik mulai rajin menyambangi toko, tentu mereka bertemu. Rupanya benar kata pepatah "witing trisno jalaran soko kulino". lambat laun timbul cinta di antara mereka, dan akhirnya mereka menikah, dan kemudian berputra dua anak laki-laki. pasca mereka menikah, mbak Susi tetap mengelola toko di Aldiron, dia sering mendapat permintaan kaos sablon, bendera partai dan barang-barang sejenis untuk kostum olah raga maupun event tertentu lainnya. peluang semacam ini disambut Mbak Susi dengan mengusulkan kepada suaminya untuk merintis bisnis baru: garmen kaos, jaket dan sablon. suaminya yang semula ragu berhasil diyakinkannya. dan perjalanan waktu membawa mereka sukses menjadi pebisnis garmen kaos, jaket sablon, bordir.
Saya berpendapat Mbak Susi dan suaminya berhasil meraih sukses. Apa rahasia sukses mereka? mereka berkenan membuka rahasianya dengan menyebutnya RUJUK (ramah, rajin, ulet, jujur dan kreatif). Mbak Susi menyadari dirinya hanyalah wanita ndeso yang hanya berijasah SMA, untuk mendapatkan kerja kantoran tentu kalah bersaing dengan mereka yang lulusan sarjana, maka ketika melihat ada kesempatan kerja langsung diputuskannya untuk melamar. keramahan membuka pintu bagi masuknya penerimaan orang lain kepada dirinya, begitupun dalam keseharian bekerja di tokonya, keramahan akan membuat orang yang datang ke tokonya merasa betah, yang semula tak niat membeli ehhh tak urung membeli pula sepotong dua potong kain. Rajin, jarang mangkir, datang sebelum jam buka, pulang paling akhir, mengerjakan apapun yang layak dikerjakannya tanpa menunggu perintah. Ulet, tak mudah menyerah ketika hadapi persoalan mudah maupun pelik. Jujur, tidak suka mengambil duit milik majikan meski sudah diberi kewenangan untuk mengelolanya, dan kreatif, tak puas hanya dengan keberadaan yang dihadapinya, selalu mencoba hal baru, aktif melihat peluang, peduli dengan keberadaan toko, sebelum diberi hak saham dia mengelola toko seperti sudah menjadi miliknya.
PERCAYA DIRI TIDAK CUKUP
Ini kisah lain lagi, saya punya kawan, kami pernah satu sekolah, namanya Adi. Adi punya istri namanya Ilma. nah ini cerita soal Ilma. Adi dan Ilma punya tiga anak perempuan yang sekarang sudah remaja. Adi berprofesi sebagai PNS sementara Ilma bekerja di sebuah lembaga keuangan, posisi Ilma sebagai manajer bidang pengembangan kapasitas organisasi (Organizational Capacity Development / OCD). belum lama ini saya bertemu Adi dan Ilma, Adi orangnya agak pendiam, jadi yang banyak bicara Ilma. ilma cerita bahwa dirinya sudah masuki usia mid-forty, menurut aturan perusahaan dia sudah bisa ajukan pensiun dini, selain sudah mid-forty, masa kerjanya juga sudah lebih dari 15 tahun. mendengar bukaan ceritanya, saya bertanya, lepas pensiun mau kerja apa?
dengan mantap Ilma menjawab "mau buka bisnis konsultan, Mas" saya menukas lagi "konsultan bidang apa?" ilma dengan tegas "ya sesuai bidang yang saya lakukan di perusahaan sekarang ini, bidang OCD" lantas dia cerita panjang lebar bagaimana peluang pasar dari bisnis konsultan bidang OCD ini yang masih terbuka lebar, dan dia sangat percaya diri untuk bisa suskes menjalani bisnis ini kelak. namun setelah dia cerita panjang lebar, Ilma masih bertanya kepada saya, 'bagaimana memulai usahanya ya Mas? dan apa resep untuk suskes menjadi konsultan?'
SECEPATNYA ITU KAPAN?
ini kisah saya sendiri tadi (Kamis 2-6-2011) sore. sepulang dari Takziah meninggalnya mas Yahya Windono Tresno (adik Ibu Bagiono Joko Sumbogo) kami (saya, istri dan anak bungsu) mampir ke ACE Hardware di Pondok Indah Mall 1 untuk membeli barang-barang keperluan rumah. saya mau membeli pipa penyedot Vacum Cleaner, untuk menganti barang serupa yang hilang entah diambil siapa. beberapa bulan lalu saya membeli Vacum Cleaner tersebut di toko yang sama, jadi kami pikir mungkin ada jual sparepart-nya.
sampai di rak nomor 30 tempat dipajangnya barang-barang kebersihan, termasuk vacum cleaner, saya bertanya kepada pria berseragam pramutoko yang di dadanya ada Nametag tertulis nama ADE, "apakah ada pipa penyedot vacum cleaner (terbuat dari logam di-vernicle) yang dijual terpisah dari unit utamanya?" Ade menjawab dengan bertanya "untuk VC merek apa Pak?" saya menjawab "apa ya... warnanya kuning seperti ini' saya lupa mereknya. lantas Ade berkata "oo itu merek Kurchner', kami tidak menjual merek itu lagi Pak. saya menyahut, lha saya membeli di sini beberapa bulan lalu", Ade "beberapa bulan lalu saya belum di sini Pak" saya" Anda belum bekerja di sini, tetapi toko ini kan sudah ada" Ade hanya diam saja. saya "emang Anda sudah berapa lama kerja di sini?" Ade "baru tiga bulan, Pak." lantas saya berkata, "di mana saya bisa mendapatkannya?" Ade "Bapak bisa ke Pulogadung... kantornya di sana" mendengar kata Pulogadung yang diucapkannya dengan enteng dada saya agak tersengal. lantas saya berkata lagi "kalau yang seperti ini ada ndak?' sambil menunjuk ke VC yang terpajang.. Ade "kalau ini ada Pak". saya amati ukurannya, diameter dan koneksinya sama dengan yang dulu kami punya. kemudian saya berkata "saya mau beli" Ade "oo mesti indent Pak" saya "berapa lama?" Ade "tidak tahu Pak, saya mesti cek ke kantor pusat". saya "silakan cek, saya tunggu Mas". Ade mulai agak bingung dia berkata "anu Pak, kantor pusatnya tutup, begini saja Pak, saya catat nama dan nomor telepon Bapak, nanti kalau sudah ada saya kabari". lantas dia mengeluarkan notes dan bolpoint, mencatat nama dan nomor telepon saya. lantas saya bertanya lagi "kapan Anda mau kabari saya?" Ade "secepatnya, Pak." saya "secepatnya itu kapan, semenit, sejam, seminggu, sebulan atau setahun dari sekarang saat ini?" nada suara saya sudah mulai meninggi. Ade "saya tidak bisa memastikan Pak, pokoknya secepatnya". Saya hampir hilang kesabaran, untung segera ingat ada banyak orang di toko tersebut, dan akhirnya saya hanya bilang "Kalau cara kerjamu jualan seperti ini, saya yakin sampai kamu tua akan tetep jadi pelayan toko, hidupmu penuh dengan penyesalan" mendengar omongan saya yang terakhir ini dia diam saja dan sayapun beranjak meninggalkan rak alat-alat kebersihan sambil menjinjing belanjaan lainnya.
ADA APA INI?
Tiga kisah nyata di atas saya sajikan bukan tanpa maksud. Mbak Susi berhasil meraih sukses setelah mengawali karir sebagai penjaga toko seperti Ade. bedanya Mbak Susi menjaga toko tekstil Ade menjaga toko barang - barang perangkat keras (hardware) keperluan rumah tangga. Mbak Susi berijasah SMA, saya tak tahu modal ijasah pria bernama Ade ini, saya duga ijasahnya paling tidak Diploma (di atas SMA). Mbak Susi ramah, cerdas, proaktif membantu dan pintar menjalin hubungan baik dengan calon pembeli sehinga yang semula tak berniat belanja akhirnya membeli sepotong-dua. Ade sebaliknya, orang yang butuh (bukan sekedar ingin) dan memiliki kekuatan untuk membeli, dimentahkannya dengan ketidak-mampuan berkomunikasi dengan baik, bersikap sopan dan gagal memberi informasi sedemikan rupa sehingga si calon pembeli memutuskan untuk membeli walau harus menunggu barangnya tiba.
Di tengah dua contoh yang kontradiktif ada Ilma yang baru mulai ingin merintis karier sebagai pemberi jasa konsultansi. Ilma seorang sarjana bahkan magister bidang manajemen. dia penuh percaya diri, namun menyadari ketidak-tahuannya bagaimana memulai berbisnis. Dalam banyak hal Ilma memiliki kemiripan perilaku dengan Mbak Susi, bedanya hanya usia dan tingkat pendidikannya. Ilma menyadari keterbatasannya, dan dia mau bertanya kepada yang dianggapnya tahu untuk mendapatkan bekal mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Akankah Ade akan bernasib seperti yang saya sumpahkan? hanya Allah SWT yang tahu. kalau begitu mengapa saya berani mengeluarkan serapah yang menyangkut nasib orang lain? pakailah logika. hari gene orang kerja di perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan, yang kompetisinya ketat, yang tuntutan kinerjanya tinggi, yang margin-nya semakin hari semakin tipis, yang regulasinya semakin ketat, yang pelanggannya semakin pintar dan demanding untuk dilayani lebih baik; masih mau arogan, masih ingin mendahulukan egonya, masih mau membanggakan asal-usulnya, prestasi masa lalunya, masih suka meremehkan penampilan fisik pembeli, masih suka malas-malasan, masih suka nyolong waktu dan mencuri harta perusahaan, masih suka melakukan pekerjaan yang mubazir, boros dan tidak efisien? gunakan akal sehat. bila ada orang yang seperti itu, rasionalitas dan bukti empirik memberikan fakta bahwa sikap seperti itu adalah sikap orang - orang yang kalah, baik sekarang, hari ini besok dan seterusnya untuk waktu yang panjang, kecuali jika yang bersangkutan mampu dan mau mengubah perilaku, tabiat dan sikap tindaknya. yang bersikap positif seperti Ilma-pun belum jaminan bahwa kelak dalam menjalani profesi sebagai konsultan akan meraih sukses, bukan?
--
Best Wishes and Success for you, from
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi - Membangun Teknologi Bermartabat
No comments:
Post a Comment