Sering sekali hal-hal yang tidak enak terjadi di luar kesengajaan kita. Dalam dunia ‘real time’ dan media sosial yang ‘tell all’ begini, apapun yang dinilai tidak pantas segera menjadi bahan diskusi, sindiran dan sosok bulan-bulanan. Komentar negatif yang dilontarkan terhadap sebuah restoran tiba-tiba membuat orang lain terdorong timpal-menimpali kejelekan restoran tersebut. Foto ‘nakal’ dari masa lalu yang tersebar luas, bisa membuat individu diberi label negatif untuk masa yang panjang. Atasan yang salah bicara dalam rapat bisa membuat seseorang yang tadinya dikagumi menjadi disudutkan. Pejabat yang tiba-tiba ‘tertangkap’ oleh kamera melakukan perbuatan yang tidak patut, mau tidak mau harus siap “mempertanggung jawabkan” keteledorannya. Kita sangat sadar bahwa nasib kita tidak selalu di atas angin. Kesalahan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak, sekejap mata bisa merusak reputasi dan langsung akan berdampak pada daya jual, respek dan penerimaan orang. Apalagi, kita juga sadar bahwa kepemimpinan dan hubungan bisnis sangat bergantung pada hubungan baik secara interpersonal.
Seorang direktur di perusahaan multi nasional tadinya berkeyakinan untuk mengabdikan diri sampai akhir masa kerjanya di perusahaan ini. Tiba-tiba dengan anjloknya angka penjualan yang sebelumnya sudah diprediksi dan dibicarakan di rapat, yang bersangkutan di ‘singkir’kan tanpa alasan yang jelas. Teman saya sering berkomentar: “Things happen”, dan kita memang harus siap untuk menghadapinya. Namun, dalam kepemimpinan dan juga dalam bisnis, kejatuhan atau kegagalan sering sekali ‘tidak tertahankan’. Banyak orang yang benar-benar merasa terpuruk, malu dan sulit untuk bangkit . Teman saya yang disingkirkan itu mengatakan: “lebih baik saya keluar dari perusahaan ini daripada harus terpukul gengsi”. Bobot hubungan interpersonal dalam kepemimpinan dan bisnis sangat besar. Ini sebabnya banyak pemimpin yang sangat sadar bahwa ia betul-betul harus berhati-hati dalam bertindak. Apakah selalu berarti “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Tetapi bukankah sangat manusiawi bila orang sesekali berbuat salah? . Bukankah justeru hubungan akan diwarnai rasa percaya bila kita pernah melewati masa masa sulit dan menyaksikan bagaimana seorang atasan, pimpinan atau perusahaan justeru bertahan dan bahkan bangkit dari keterpurukan? Dalam dunia ‘realtime’ dan media sosial yang ‘tell-all’ begini, justeru kita perlu memperhitungkan, bahwa kita tidak bisa bersembunyi dari kesalahan, kegagalan, dan ketidak beranian mengambil resiko. Semakin kita bekerja secara otentik dan transparan, semakin kita mudah meramal kesalahan dan kegagalan dan semakin siap kita terhadap pandangan orang terhadap kesalahan kita.
Jangan sembunyi
Perusahaan pizza yang terkenal dan tumbuh sangat pesat tiba-tiba mendapat komentar yang bertubi-tubi di media sosial. Dikatakan bahwa pizzanya keras, dan tidak ‘fresh’ lagi. Delivery yang tadinya dijamin 30 menit pasti sampai, sekarang ternyata tanpa malu-malu terlambat sejam lebih. Ada pelanggan yang mengatakan “Perusahaan pizza ini pasti ambruk”. Kenyataan ini sangat diakui oleh perusahaan tersebut bila mereka tidak melakukan sesuatu. Yang kemudian dilakukan adalah, membongkar kembali resep-resep lama, bereksperimen dengan menu dan kombinasi baru. Hal yang paling mengejutkan adalah dalam iklannya, perusahaan ini meng’iya’kan bahwa servis dan produknya pernah gagal, tetapi mereka sekarang sudah melakukan perbaikan dan mempersilahkan para pelanggan mencobanya. Para pelanggan yang menyaksikan iklan, memberi komentar positif dan menyatakan respek terhadap policy perusahaan yang jelas dan segar ini. Hal yang paling penting lagi adalah para pelanggan lama mulai lagi mencoba pizzanya dengan rasa baru. Keterpurukan perusahaan ini justeru merupakan genjotan baru bagi perusahaan ini untuk bangkit.
Apa senjatanya. Dengan sikap ‘gentleman’ perusahaan ini mengakui kesalahannya, dan memperlihatkan bagaimana ia pemperbaiki kesalahan tersebut. “Failure point’ ini malah dibalik sehingga penjualan berlipat ganda. Tidak heran juga bila kita tidak berkometar negatif lagi tentang pejabat yang mengaku salah dan segera mengundurkan diri. Mungkin nama baik sudah tercoreng, tetapi paling tidak untuk ke depannya, ia masih berkesempatan memperbaiki diri, bermodalkan tanggung jawab dan sikap ‘fair’nya itu.
Berstrategi dalam menangani kesalahan
Teman yang juga sedang mengalami keterpurukan pernah berkomentar bahwa mengalami, menghadapi bahkan mengakui kesalahan baru terasa adalah sebuah tugas yang berat tetapi memang termasuk dalam upah kita sebagai pemimpin. Daripada mengerahkan energi untuk menghindari kesalahan, kita lebih baik membangun organisasi yang tahan kesalahan. CEO baru perusahaan mobil Ford, Alan Mulally, pada rapat pertamanya dengan para eksekutif, menanyakan, pendapat para eksekutif untuk memberi warna tentang keadaan perusahaan. Hijau untuk situasi mulus, kuning waspada, dan merah untuk keadaan bahaya. Semua orang mengangkat kartu hijau. Pak CEO kemudian meminta mereka berfikir dalam-dalam lagi dan kemudian kembali dengan penilaian baru. Orang pertama yang mengacungkan warna merah kemudian di aplaus oleh CEO nya sendiri, dan kemudian situasi yang digambarkan itu dibahas oleh seluruh tim. Saatnya kita membuka mata, “Create a new culture that could admit when something was going wrong, and do so early enough so that the organization could still have an impact on the outcome.” Dengan demikian tim terbiasa bersikap waspada dan terbiasa melihat kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
Banyak orang mencampuradukkan kesalahan dengan tidak berprestasinya individu atau perusahaan. Padahal kedua hal ini jelas berbeda. Kesalahan memang harus diantisipasi, boleh saja di‘punish’, tetapi kita perlu berlatih untuk tidak menyerang individu dan memandangnya sebagai ruang untuk menemukan jalan keluar, menjadi lebih kuat dan memberi momentum “naik kelas”.
Kompas Klasika,
Sabtu, 16 April 2011
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
No comments:
Post a Comment